CKSMemorial Hall, Martyr Shrine, National Museum, 101 Taipe Mall berhasil kita lalui mulus tanpa rintangan yang berarti. Panas 34 derajat celcius tidak menghentikan langkahku untuk mengeksplor beberapa tempat yang kami kunjungi bersama dengan rombongan dari Dwidaya Tour.
Tempat yang menyenangkan bagi beberapa orang yang mencintai sejarah. Disana aku belajar bagaimana bangsa ini begitu pandai mengemas segala sesuatu menjadi tontonan yang menarik untuk dilihat. Bagaimana tidak.... aku yang tidak menyukai museum menjadi sangat tertarik melihat berbagai barang antik dipajang di National Museum. Tidak hanya itu kekaguman ku bertambah dengan beberapa barang yang dipajang di sana... Kreativ sekali bangsa China dalam menciptakan karya seni. Kemampuan ini harus kita serap dan kita kembalikan buat Tuhan.....
Ada satu lagi yang membuat aku kagum... Prajurit yang menjaga nya. Mekipun hanya satu jam tetapi mereka yang menjaga sudah dilatih untuk tidak bergerak, bahkan berkedip sekalipun. Bener-bener seperti patung...
Oh ya perlu kita ketahui semua pria dari usia 20-38 tahun diwajibkan untuk mengikuti Wajib Militer selama satu tahun kecuali ada kelainan di badan mereka atau kondisi khusus. Dan dalam wajib militer tersebut beberapa pria ada yang secara sukarela meneruskan sehingga menjadi pasukan disana (Kalau di Indonesia seperti TNI) dan hanya orang-orang terpilih saja yang dapat menjadi penjaga seperti yang saya ceritakan diatas (pastinya gaji mereka tinggi)
Hari Kedua di Taiwan
Menggunakan HSR dari Taipe ke Taitung yang seharusnya ditempuh 2.5 jam hanya kita tempuh 45 menit. Setibanya di Taitung kita mengunjungi Wen Wu Temple yang di depannya terdapat pemandangan Sun Moon Lake dan kemudian mengunjungi Te Hua Village.
Wen Wu Temple sangat besar dengan pemandangan Sun Moon Lake di depan temple tersebut sangat indah sayang ketika sampai disana hujan turun cukup deras sehingga menghalangi ku menikmati pemandangan Sun Moon Lake dengan leluasa alhasil hanya belanja oleh-oleh buat temen
Te Hua Village.... aku pikir disini kita bisa melihat suku asli dari Taiwan ternyata.... hanya tempat belanja makanan dan sedikit kerajinan tangan disana (yang menurutku ga terlalu penting) dan menikmati Sun Moon Lake dari dekat. Tapi karena panas jadi saya hanya duduk-duduk di dekat dermaga sembari memandang seekor anjing yang asyik bermain dengan deburan ombak di ujung dermaga yang lain. Sebenarnya kita bisa menggunakan Cable Car untuk menikmati pemandangan Sun Moon Lake dari atas tapi karena tidak ada jadwalnya jadi kita hanya menikmatinya dari dermaga saja.
Perjalanan di lanjutkan menuju ke Alishan. Pagi hari sebelum kita menuju ke Taitung kami mendapatkan kabar dari Tour Guide kami kalau semalam Alishan hujan deras dan ada kemungkinan akan ditutup sehingga kita tidak akan bisa sampai ke atas. Sepanjang perjalanan hanya bisa berdoa semoga Alishan bisa dibuka dan kita bisa tembus.
kabar berikutnya yang TL kami dapatkan kita harus segera masuk Alishan sebelum jam 6 sore alhasil driver bus yang kita tumpangi harus ngebut. Ternyata bisa juga rombongan kita bekerja dengan sangat cepat. Kami hanya berhenti satu kali untuk ke kamar kecil dan hanya dibutuhkan waktu kurang dari 10 menit kita berhenti karena semua orang mengharapkan untuk bisa masuk ke Alishan.
Jam 6.10 kami berhasil melewati Alishan dengan "berdara-darah" karena banyak teman2 yang mabuk. Tapi perjuangan tidak berhenti disitu kami masih harus mendaki gunung Alishan yang tingginya 2650m dpl (dari permukaan laut). Jam 07.30 sore kami sampai di dekat hotel tempat kami menginap karena bus tidak dapat sampai ke sana sehingga kami harus menggunakan mobil dari Alishan Guo Hotel (Nama hotel tempat kami menginap) menjemput kami.
Kerusuhan tidak berhenti diperjalana, koper bawaan kami harus diangkut sendiri karena sopir tidak mau membantu kami menurunkan barang bawaan kami. Rencana dari TL, kami akan diangkut dulu ke hotel agar dapat segera beristirahat karena beberapa dari kami mabuk perjalanan dan sisa koper akan di angkut sendiri oleh sopir hotel di kloter berikutnya. Sopir bus kami marah-marah, beberapa dari rombongan yang bisa dan mengerti perkataan mereka akhirnya mengambil inisiatif menurunkan semua koper kami untuk dipindahkan ke shuttle bus milik hotel.
Satu lagi hotel disana ranjangnya "ajaib" kita seperti tidur di papan.... tapi karena sudah terlalu lelah akhirnya terlelap juga. Karena besok pagi kami harus bangun pagi sekitar jam 3 pagi untuk melihat matahari terbit. Karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan tidak semua dari rombongan mau ikut melihat matahari terbit.
